Menteri Sekretaris Negara, Pratikno memberikan keynote speech dalam acara Virtual Public Lecture Jabatan Fungsional Analis Kebijakan yang diselenggarakan oleh Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia (LAN RI) pada, Kamis (1/4).

Berikut Transkrip Keynote Speech Mensesneg Pada Acara Virtual Public Lecture Jabatan Fungsional Analis  Kebijakan:

Bismillahirrahmanirrahim. Assalamualaikum Wr. Wb. Om Swastiastu, namo buddhaya, salam kebajikan.

Saudara-saudara pemegang pejabat fungsional yang saya hormati,

Pemerintah melakukan konversi jabatan struktural eselon 3 dan 4 menjadi jabatan fungsional dalam skala besar-besaran. Maksud dan tujuan dari konferensi ini adalah untuk konsolidasi sumber daya negara, konsolidasi anggaran, dan konsolidasi SDM. Yang tadinya organisasi itu terbagi dalam kelompok-kelompok unit struktural yang kecil dan sudah terbagi ketat antara unit satu dengan unit yang lain, sekarang para pegawai dan SDM dikumpulkan dalam skala lebih besar di eselon 2 agar kekuatannya lebih solid dan lebih besar.

Mengapa ini diperlukan? Karena kita menghadapi ketidakpastian. Dunia sering sekali sangat berubah. Kita menghadapi era disrupsi. Jadi kalau berubah, maka prioritas berubah, maka kekuatan organisasi ini bisa dikerahkan untuk menghadapi sebuah tantangan yang baru. Sebagai satu contoh saat ini kita sedang menghadapi pandemi Covid-19. Kita harus menyelesaikan krisis kesehatan dan krisis ekonomi. Hal ini membutuhkan energi besar. Oleh karena itu, dengan konsolidasi SDM dan anggaran kita bisa melakukannya dengan cara lebih baik.

Jadi nanti apabila ada isu lain lagi karena dunia penuh ketidakpastian, maka kekuatan organisasi yang besar bisa dikerahkan ke sana. Misalnya sekarang ini, kalau Indonesia terdiri dari kawasan pulau-pulau besar, lalu kita harus fokus ke pulau Kalimantan. Maka kekuatannya akan lebih besar dikerahkan ke situ. Tapi nanti kalau kondisinya berubah, bisa juga bergeser. Jadi konsolidasi SDM dan anggaran sangat diperlukan agar kita mampu untuk memecahkan masalah secara cepat, menghadapi ketidakpastian, menghadapi disrupsi yang semakin kencang.

Saudara-saudara sekalian,

Pergeseran struktural ke fungsional tentu saja membutuhkan ekosistem baru. Pertama, cara kerja jabatan fungsional harus lebih cair, lebih kolaboratif, memberikan ruang bagi konsolidasi kekuatan untuk memecahkan masalah lintas sektor, lintas disiplin, lintas skill, dan lintas keahlian. Jadi sebuah ekosistem atau sebuah cara kerja baru yang harus kita bangun.

Kedua, ini sangat penting, apresiasi kinerja terhadap pejabat fungsional juga harus mengalami pergeseran. Ketika kita kolaborasi, maka KPI (Key Performance Indicator) juga harus kolaboratif. Saya sangat khawatir dengan model-model KPI yang sangat personal, sangat individual. Padahal yang kita inginkan di jabatan fungsional itu kolaborasi. Jika kita dorong kolaborasi, tapi KPI-nya atau alat ukur kinerjanya itu sangat individual, ini berarti tidak ada in-line. Bagi kita di pemerintahan, termasuk LAN, harus memikirkan perubahan KPI ini secara signifikan. KPI juga akan terkait dengan isu-isu yang lain.

Ketiga, ekosistem kerja juga harus berubah, harus mendorong kolaborasi, bukan hanya KPI-nya saja. Misalnya, kalau biasanya pejabat itu terkotak-kotak, ada ruang tertutup. Dengan kebutuhan untuk kolaborasi tentu saja akan berubah. Suasana kantor juga akan berubah. Format kantor juga akan berubah untuk mendukung kolaborasi. Digitalisasi harus dilakukan besar-besaran untuk mempermudah kolaborasi dimanapun berada. Debirokratisasi tentu saja harus dilakukan juga, karena dari fungsional kita ingin memperoleh expertise. Jangan sampai kemudian dibebani dengan tugas-tugas birokrasi. Jangan sampai pejabat fungsional lebih sibuk menulis formulir laporan kegiatan ketimbang memikirkan substansi kebijakan. Tentu saja deregulasi juga harus dilakukan. Jadi ini merupakan sebuah kerja bersama. Jika debirokratisasi, deregulasi, dan digitalisasi dilakukan, dengan format kerja dan suasana kerja baru, hal ini akan mempermudah kinerja dari para pejabat fungsional agar bisa kita optimalkan.

Keempat, pentingnya perubahan kapasitas individual dari pejabat fungsional. Ketika bergeser dari pejabat struktural ke pejabat fungsional, yang dibutuhkan itu berbeda. Bukan hanya penguasaan kontennya, tetapi juga karakternya dan penguasaan materi. Master content itu penting.Tetapi saya selalu mengingatkan bahwa di dunia yang disruptif sekarang ini, konten itu mudah sekali untuk obsolute (usang). Sesuatu yang kita anggap bagus dan tepat, menjadi tidak tepat sekarang. Banyak sekali perubahan misalnya yang dihempas oleh revolusi industri 4.0, dihempas oleh digitalisasi, dihempas oleh disrupsi, dihempas oleh cara kerja yang baru. Ilmu yang tadinya hebat menjadi tidak relevan. Oleh karena itu, selain penguasaan konten, yang sangat penting adalah karakter sebagai pembelajar. Tanpa ada karakter sebagai pembelajar, mudah sekali pejabat fungsional analis kebijakan akan menjadi obsolute (usang). Mengapa? Karena dunia perlu berubah. Kalau tidak ada karakter pembelajar, karakter mixing skills knowledge, hybrid skills, atau hybrid knowlegde, maka kontribusinya juga tidak akan signifikan. Bahkan bukan hanya itu, kalau anda menjadi analis kebijakan, tentu saja harus punya sifat dan karakter untuk mampu merumuskan masalah secara baik. Harus punya empati kepada masyarakat, kepada kemanusiaan, kepada bangsa dan negara. Harus ada critical thinking yang bertanya terhadap apa yang sudah dilakukan. Dan tentu saja kemudian harus problem solving.

Kelima, ketika kita butuh analisis kebijakan semacam itu, ekosistem harus berubah. Mulai dari cara kerja dan suasana kantor harus berubah. Tapi saya ingin memanfaatkan kesempatan ini juga untuk menekankan bahwa diklat harus berubah total secara besar-besaran. Diklat tidak lagi teaching. Karena begitu teaching, ada beberapa resiko yang sangat besar. Satu, tidak menumbuhkan karakter learning. Dua, menyampaikan ilmu pengetahuan dan skill yang obsolute, skill yang yang ditumpuk dan akumulasi dari zaman sebelumnya, mungkin pada zaman analog, kemudian diajarkan pada zaman digital. Saya selalu mengatakan jangan sampai anak-anak muda yang memang native secara digital, dirusak oleh generasi saya yang memang tumbuh dalam dunia analog. Oleh karena itu, diklat harus memberikan suasana yang menumbuhkan active learning. Yang penting bagi diklat adalah menjadi fire lighter, menjadi pemantik, menjadi korek api. Jangan menjadi menara air, seakan-akan peserta diklat ilmunya hanya dari para narasumber (widyaiswara). Saya khawatir jika itu yang terjadi, jika dari menara air, kita tidak tahu tentang airnya. Tetapi jika diklat menjadi fire lighter yang membuat peserta diklat berkobar-kobar untuk belajar. Secara team work mempelajari ilmu yang baru dengan cara yang baru dan logic baru. Jangan sampai separti yang tadi saya katakan, saya bermigrasi ke digital kemudian saya banyak berbicara kepada teman-teman muda yang native digital. Jangan sampai yang migrasi justru merusak yang native.

Diklat ini penting sekali untuk dipikirkan secara mendalam, untuk perubahan besar-besaran. Baik dari sisi konten maupun metodologi, juga dari sisi suasana, bahwa diklat bukan hanya menyampaikan koten. Diklat yang paling utama adalah mengembangkan karakter. Karakter menjadi analis kebijakan dalam dunia yang baru dalam dunia yang penuh disrupsi dan ketidakpastian.

Saudara-saudara yang saya hormati,

Banyak analis kebijakan yang harus belajar aktif tentang metodologi baru seperti sentimen analytics, big data analytics, machine learning, dan seterusnya. Jadi saya kira konten-konten itu memang diperlukan. Selain itu, suasana kerja juga penting. Dalam suasana yang kolaborasi, active learning, ekosistem yang merdeka, ekosistem yang egaliter, ekosistem yang memberikan insentif dan dorongan untuk terus belajar. Hal itu menjadi sesuatu yang penting.

Pada kesempatan ini saya ingin mengajak Bapak/Ibu para pejabat yang ikut mendengarkan acara ini. Mari kita review ulang secara total ekosistem yang sudah ada. Mari kita lakukan reformasi ekosistem secara besar-besaran. Saya juga di Kementerian Sekretariat Negara akan mendukung penuh untuk menjadi bagian penting dari upaya reformasi. Jadi agent-nya harus hebat dan harus berubah, tapi ekosistem strukturnya juga harus dibenahi agar dapat kondusif. Saya kira itu yang bisa saya sampaikan.

Terima kasih.

Wassalamualaikum Wr. Wb.