Jakarta, NAWACITAPOST– Melenggang dari Menteri Dalam Negeri (Mendagri) ke Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Indonesia (PAN RB) pada Kabinet Indonesia Maju Presiden Joko Widodo (Jokowi). Siapa lagi kalau bukan si Menteri cakep berparas Cina dan berkacamata. Ya tentu saja Tjahjo Kumolo,SH atau sapaan Tjahjo.  Tjahjo Kumolo dikenal sebagai menteri yang suka blusukan. Tapi, ternyata juga doyan makanan berbahan daging kambing. Hobinya pun diluar dugaan. Suka banget berpuisi. Kata–katanya pun sangat puitis. Bisa dibilang Sang Menteri Pujangga.

Tjahjo Kumolo, SH terlahir di Surakarta, Jawa Tengah. Merupakan salah seorang politikus Indonesia, dan terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI) periode 1987–2014 dari wilayah pemilihan Jawa Tengah I dan sekaligus menjadi Ketua Fraksi PDIP di DPR RI. Kemudian juga menjadi anggota Komisi I yang membidangi pertahanan, luar negeri dan informasi di DPR RI.

Tjahjo Kumolo secara mengejutkan dipilih oleh Megawati Soekarnoputri sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjend) DPP PDIP periode 2010-2015. Yang mana pada periode sebelumnya duduk sebagai Ketua DPP Bidang Politik PDI-P.

Karir politik terus menjulang. Dia dijuluki La Ode Lakina Kaogesana Lipu”. Julukan yang diberikan saat melakukan kunjungan kerja (kunker) sebagai Mendagri. Tepatnya ke Kabupaten Buton Selatan, Sulawesi Tenggara pada Sabtu 10 Oktober 2015. La Ode berarti pemberian pujian atau penghargaan kepada seseorang oleh adat Kesultanan Buton. Yakni sebagai negarawan atau bangsawan yang selalu berjuang membangun bangsa dan agama. Kemudian juga mempertahankan adat yang menjadikan budaya. Kaogesana artinya pembesar atau atasan, tingkat kedudukan sosial yang tinggi dalam kesultanan Buton. Lakina berarti pimpinan dalam suatu kadie (kawasan) yang masyarakatnya menganut agama Islam. Lipu artinya wilayah yang meliputi negara, daerah, kecamatan, kelurahan, dan desa.

Gelar diperoleh Tjahjo saat menjabat Mendagri di Kabinet Kerja Jokowi periode pemerintahan pertama (2014—2019). Jokowi memuji Tjahjo sebagai politikus yang profesional, demokratis dan tegas. Tepatnya saat mengenalkannya di Istana.  Dia pun diketahui merangkap jabatan sebagai Kepala Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) dan Pelaksana Tugas Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham). Sebagai Kepala BNPP, dia sukses bekerja sama dengan kementerian atau lembaga lain. Mampu menjadikan badan menjadi kawah candradimuka pembangunan daerah perbatasan di Indonesia. Pembangunan daerah perbatasan merupakan salah satu program yang terdapat dalam Nawacita Jokowi.

Namun, kecilnya Tjahjo tumbuh dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi di Semarang. Dia merupakan alumnus Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (Undip). Yang mana menuntaskan perkuliahan sarjana hukum pada tahun 1985. Semasa kuliah, dirinya aktif terlibat dalam organisasi kepemudaan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI). Bahkan, pernah menjadi Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) KNPI pada tahun 1990 sampai 1993. Dia pandai membaca ‘arah’ perpolitikan. Pada Tahun 1992 mengikuti pendidikan lemhanas dan tercatat ditahun 1984 pernah mengikuti pula program calon pimpinan oleh JICA Jepang, dan berkeliling keliling negara Jepang pada waktu itu.

Tjahjo langsung dikenal sebagai juru bicara Taufiq Kiemas. Dia juga menempati posisi Direktur Sumber Daya Manusia Penelitian Pengembangan (SDM Litbang) Dewan Pimpinan Pusat PDI Perjuangan pada tahun 1999 sampai 2002.

Tjahjo juga terpilih menjadi anggota DPR periode 1999—2004 dari partai barunya. Pada saat itu, Tjahjo bertugas sebagai Wakil Sekretaris Fraksi PDI Perjuangan di DPR RI (1999—2002) dan Sekretaris Fraksi PDI Perjuangan di DPR RI (2002—2003). Pada Pemilu 2004, dia terpilih lagi di DPR dan menjadi anggota Komisi XI serta anggota Badan Kerja Sama Antar-Parlemen DPR RI (2004—2008).

Yang menarik, ternyata penghasilannya hampir seluruhnya digunakan untuk membiayai kegiatan politik. Kemudian juga untuk iuran ke kas partai. Padahal, dirinya tidak memiliki pendapatan lain, selain dari gaji dan tunjangan dari negara. Bahkan tidak memiliki tabungan, saham, deposito atau perusahaan lainnya. Banyak godaan selalu menghampirinya. Terutama selama dirinya menduduki sejumlah jabatan strategis di DPR dan Partai. Tak sedikit orang yang mendekati dan menawarinya kerjasama proyek, pertambangan dan iming-iming menggiurkan lainnya. Namun, dia menyatakan mampu bisa lolos dari ujian. Baginya, jabatan adalah amanah. Maka sebagai politisi harus tahan godaan. Karier politiknya justru lebih bersinar.

Tjahjo diluar kesibukan kerja politik, ternyata mampu memainkan sejumlah alat musik. Dilakoni sejak masih muda. Hanya saja, kini mulai berkurang. Terlebih karena mengingat kesibukan yang begitu luarbiasa. Ya memang sesekali masih mencoba memetik gitar untuk menghibur diri. Dia juga hobi mengoleksi barang–barang yang antik. Barang antik yang dikoleksi adalah keris. Banyak keris koleksinya yang berusia ratusan tahun. Keris jaman baheula. Bukan hanya keris, Tjahjo juga suka mengkoleksi batu akik dan mulia. Di rumahnya, koleksi batu akik dann batu mulia cukup banyak. Tapi, dia justru tidak pernah berjumpa dengan olahraga golf.

 

Rupanya, ada masakan yang tak bisa dijauhinya. Bisa dibilang sudah jatuh cinta. Bisa memanjakan selera lidahnya. Apalagi memang dia suka kulineran. Sop kambing, adalah salah satu menu yang dicintainya. Padahal, dirinya kerapkali terserang penyakit asam urat. Tentu bagi penderita asam urat, makanan yang terbuat atau berbahan daging kambing harus dihindari. Tapi, tak hanya sop kambing yang jadi menu favorit dalam memanjakan selera lidahnya.

Ada menu lain yang tak bisa ditolaknya kala lapar memanggil. Menunya ya lagi–lagi berbahan daging kambing. Yaitu nasi kebuli. Tapi, dia justru lebih memilih makan di pinggir jalan ketimbang restoran mewah. Menikmati suasananya. Bahkan, dia juga tidak segan turun ke dapur, memasak sendiri. Semisal membuat nasi goreng atau memasak daging kambing. Kulkasnya selalu tersedia bumbu, semacam bawang merah, cabai, bawang putih, tomat dan lainnya.

Tjahjo dikenal pula Sang Menteri Pujangga Puitis. Acapkali mengeluarkan kata–kata yang sangat puitis.

Ada salah satu kata puitisnya. Hidup itu indah, bila kita dapat melihat itu sendiri dari memadukan langkah awal, perasaan, kata hati, pikiran dan keyakinan. Kita melangkah untuk keindahan ke depan. Jangan lelah berdoa, jangan larut dalam duka. Usap jiwa, bersimpuh di depanNya. Hanya Dia pemilik sukma. Langkah pertama menentukan langkah selanjutnya. Ikatkan langkahmu dengan pikir, hati dan perasaan.

Puitis banget ya kata–katanya. Luar biasa ya Sang Menteri Pujangga.

 (Ayu Yulia Yang) https://nawacitapost.com/featured/2020/05/26/tjahjo-kumolo-sang-menteri-pujangga-puitis-kolektor-barang-antik-doyan-daging-kambing/