Catatan TjahjoKumolo:

Jakarta- Peran serta Badan Intelijen Negara (BIN), dalam rangka untuk mecegah penyebaran Covid-19, terutama di klaster perkantoran patut kita apresiasi. BIN telah aktif mempercepat penanggulangan penanganan Virus Corona (Covid-19), dari meriset obat corona, membuat proyeksi puncak pandemic, hingga menggelar tes polymerase chain reaction (PCR test).

BIN sebagai lini terdepan dalam Keamanan Nasional sebagaimana amanat UU NO. 17 TAHUN 2011 tentang INTELIJEN NEGARA, maka BIN berkewajiban membantu pemerintah dan siap mendukung seluruh kebijakan Presiden dalam mengatasi pandemi covid-19 di Indonesia.

Terkait masalah akurasi hasil tes, saya sangat memahami bahwa  Pertama, dalam melakukan proses uji spesimen, Laboratorium BIN menggunakan 2 jenis mesin Real Time PCR, yaitu jenis QIAGEN dari Jerman dan jenis Thermo Scientific PCR dari Amerika Serikat dan memiliki sertifikat LAB Biosafety Level 2 (BSL-2) yang telah didesain mengikuti standar protokol laboratorium serta telah dilakukan proses sertifikasi oleh Lembaga Sertifikasi Internasional, World Bio Haztec (Singapore) serta melakukan kerjasama dengan Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman untuk standar hasil tes, sehingga layak digunakan untuk analisis Reverse Transcriptase-Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) yang sesuai standar.

Badan Intelijen Negara (BIN) menerapkan ambang batas standar hasil PCR Tes yang lebih tinggi dibandingkan institusi/lembaga lain yang tercermin dari nilai Ct qPCR (ambang batas bawah 35, namun untuk mencegah OTG lolos screening maka BIN menaikkan menjadi 40) termasuk melakukan uji validitas melalui triangulasi 3 jenis gen yaitu RNP/IC, N dan ORF1ab.

Dewan Analis Strategis Medical Intelligence BIN termasuk jaringan intelijen di WHO telah menjelaskan fenomena hasil Test Swab positif menjadi negatif bukan hal yang baru dan dapat disebabkan oleh: (1) RNA/Protein yang tersisa (Jasad Renik Virus) sudah sangat sedikit bahkan mendekati hilang pada threshold sehingga tidak terdeteksi lagi. Apalagi subjek tanpa gejala klinis dan ditest pada hari yang berbeda. OTG/asimptomatik yang mendekati sembuh berpotensi memiliki fenomena tersebut. (2) Terjadi bias Pre-Analitik yaitu pengambilan sampel dilakukan oleh 2 orang berbeda, dengan kualitas pelatihan berbeda dan SOP berbeda pada laboratorium yang berbeda, sehingga sampel Swab Sel yang berisi virus covid tidak terambil atau terkontaminasi. (3) Sensitivitas Reagen dapat berbeda terutama untuk pasien yang nilai Cq/Ct-nya sudah mendekati 40. Dalam kaitan ini, BIN menggunakan Reagen PerkinElmer (USA), A*STAR FORTITUDE (Singapore), Wuhan Easy Diagnosis (China). Reagen ini lebih tinggi standar dan sensitivitasnya terhadap Strain Covid-19 dibandingkan merk lain seperti Genolution (Korea) dan Liferiver (China) yang digunakan beberapa rumah sakit.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi perbedaan uji swab antara lain adalah kondisi peralatan, waktu pengujian, kondisi pasien, dan kualitas test kit. BIN menjamin kondisi peralatan, metode, dan test kit yang digunakan adalah Gold Standard dalam pengujian sampel covid-19. Kasus false positive dan false negatif sendiri telah banyak dilaporkan di berbagai negara seperti Amerika Serikat, China, dan Swedia.

Kedua, untuk masalah pelaporan, dalam menggelar kegiatan test massal di berbagai titik, BIN berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat termasuk didalamnya Dinas Kesehatan serta Gugus Tugas Daerah untuk membantu menentukan titik-titik lokasi yang menjadi klaster penyebaran covid-19.

Sejak Satgas Intelijen Medis beroperasi pada bulan April 2020, BIN selalu melaporkan hasil tes swab yang selama ini dilakukan kepada Kemenkes dan Gugus Tugas Penanganan Covid-19.

Ketiga, terkait keterlibatan BIN dalam penanganan covid-19. BIN diberikan kewenangan oleh UU NO. 17 TAHUN 2011 tentang Intelijen Negara untuk membentuk SATGAS dalam pelaksanaan aktivitas intelijen (pasal 30 huruf d). Ancaman kesehatan juga merupakan bagian dari ancaman terhadap keamanan manusia yang merupakan ranah kerja BIN, sehingga dengan dasar tersebut BIN turut berpartisipasi secara aktif membantu Satgas Penanganan Covid-19 dengan melakukan Operasi Medical Intelligence (INTELIJEN MEDIS) diantaranya berupa gelaran Tes Swab di berbagai wilayah, dekontaminasi, dan kerjasama dalam pengembangan obat dan vaksin. Hal semisal ini juga dilakukan di negara-negara lain seperti Amerika Serikat yang memiliki National Center For Medical Intelligence (NCMI) yang melakukan surveillance penyakit menular di dunia, atau NATO di Eropa yang melibatkan aktivitas intelijen dalam pengkajian infrastruktur kesehatan.

Kehadiran Satgas BIN telah mendapat apresiasi positif dari K/L dan PEMDA yang menyampaikan permohonan kepada BIN untuk membantu pelaksanaan tracing di wilayah/institusinya dengan melakukan Tes Swab dengan beban anggaran operasi BIN.

Upaya-upaya yang dilakukan BIN semata-mata untuk membantu pemerintah dalam percepatan penanganan pandemi covid-19 diantaranya melalui 3 T (Testing, Tracing dan Treatment) serta untuk memperbanyak kapasitas testing di Indonesia yang saat ini masih dibawah rata-rata test harian yang ditetapkan WHO (1000 test per 1 juta penduduk). Oleh karenanya BIN bekerjasama dengan berbagai lembaga penelitian dan universitas yang memiliki fasilitas laboratorium BSL 2 dan 3 di berbagai daerah utamanya yang masuk dalam zona merah covid-19, untuk meningkatkan kapasitas uji spesimen dengan memberikan berbagai bantuan alat laboratorium, mulai dari RT PCR hingga berbagai peralatan lainnya, seperti reagen dsb. Selain Itu, BIN juga membangun 1 Lab Stasioner Berstandar Bsl-2+ dan 4 (empat) Unit Lab Mobile Berstandar Bsl-2 untuk membantu memercepat dan memperbanyak kapasitas testing, yang mampu menjangkau zona-zona merah yang sebelumnya tidak dapat dijangkau.

Upaya 3T dimaksudkan untuk mencegah OTG/asimpotmatik agar tidak menjadi spreader merupakan perhatian kita bersama dan mengobati pasien covid-19 kondisi ringan dan sedang yang dideteksi sejak dini dari Tes Swab berpeluang sembuh lebih besar serta lebih murah. Jangan sampai stigmatisasi masyarakat yang kuat melekat menjadi bagian dari polemik hasil test positif-negatif.

Standar test yang tinggi yang dipakai oleh BIN, maka akan memiliki hasil yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu keberadaan Badan Intelijen Negara (BIN) dalam mempercepat penanggulangan penanganan Virus Corona (Covid-19) sangat diperlukan, sesuai dengan salah satu fungsi BIN adalah mampu mendeteksi segala ancaman terhadap negara, termasuk dalam hal ini ancaman penyebaran Virus-19. Sehingga data intelijen yang diperoleh dilapangan dapat memberi masukan kepada Pemimpin Negara untuk mengambil kebijakan yang tepat, karena jika data salah maka pengambilan kebijakan juga akan salah.

TjahjoKumolo-MenteriPANRB